WNI Ramai-Ramai Berobat ke Luar Negeri, Devisa Rp200 Triliun Hilang Setiap Tahun
Red.Info Jabar Online – Fenomena warga Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri kian marak. Dari kalangan artis, pejabat hingga masyarakat umum, banyak yang rela menyeberang ke Malaysia, Singapura, hingga India untuk mendapatkan layanan kesehatan. Alasannya beragam: mulai dari akurasi diagnosis, kecepatan pelayanan, ketersediaan obat, hingga biaya yang lebih terjangkau dibanding di dalam negeri.
Penyanyi Vidi Aldiano misalnya, menjalani pengobatan kanker di Penang, Malaysia. Ia mengaku obat yang dibutuhkan lebih mudah diperoleh di sana, sehingga rela bolak-balik demi kelanjutan terapi. Hal senada diungkapkan Tantowi Yahya. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru itu menyebut tiga alasan utama masyarakat lebih percaya berobat ke Penang.
“Pertama, akurasi tinggi berkat mesin modern dan dokter profesional. Kedua, pelayanan cepat, pasien hanya menunggu kurang dari lima menit, dan hasil pemeriksaan bisa keluar kurang dari empat jam. Ketiga, tingkat kepercayaan pasien terhadap hasil pengobatan sangat tinggi,” ujar Tantowi melalui akun TikTok pribadinya, Sabtu (10/8/2025).
Selain itu, faktor biaya juga menjadi penentu. Menurutnya, pengobatan di Penang lebih murah 30–50 persen dibanding Jakarta dan Singapura.
Kebocoran Devisa Mencapai Rp200 Triliun
Fenomena ini sudah berulang kali disoroti Presiden Joko Widodo. Pada 2023, Presiden ke-7 Jokowi menyesalkan devisa negara yang bocor akibat lebih dari 1 juta warga berobat ke luar negeri. “Hampir dua juta orang, sekitar satu juta ke Malaysia, 750 ribu ke Singapura, sisanya ke Jepang, Amerika, Jerman dan lain-lain. Mau kita teruskan?” kata Jokowi.
Data terbaru pemerintah menyebutkan, setiap tahun Indonesia kehilangan devisa antara Rp170 triliun hingga Rp200 triliun akibat warganya berobat ke luar negeri. Menko PMK Pratikno bahkan menegaskan pada Juni 2025, angka itu kini mendekati Rp200 triliun per tahun.
Laporan konsulat RI di Penang mencatat sedikitnya 350.000 WNI berobat ke Penang pada 2023, sementara data Sunway Medical Centre Penang menyebut rata-rata 1.000 pasien Indonesia datang setiap bulan pada 2025. Penelitian menunjukkan 70% pasien asing di Penang berasal dari Indonesia, mayoritas dari Sumatra.
Persaingan Layanan Kesehatan Regional
Tidak hanya Malaysia, sejumlah negara lain juga mengemas layanan kesehatan dalam konsep medical tourism.
Singapura diakui WHO memiliki sistem kesehatan terbaik di Asia dan keenam di dunia, dengan keunggulan di bidang kardiologi, onkologi, hingga terapi stem cell.
India menawarkan biaya operasi jauh lebih murah dengan rumah sakit swasta bertaraf internasional, terutama di Mumbai, Chennai, dan Delhi. Pertumbuhan perjalanan medis di India mencapai 30% per tahun.
Korea Selatan unggul dalam operasi tulang belakang, skrining kanker, dan bedah kosmetik.
Thailand dikenal sebagai pusat operasi estetika dengan infrastruktur medis modern.
Bagi masyarakat kelas menengah atas, opsi ini dianggap wajar demi mendapatkan layanan cepat dan terpercaya. Namun bagi rakyat kecil, jangankan ke luar negeri, mengakses rumah sakit swasta di kota besar saja seringkali hanya sebatas mimpi.
Fenomena medical tourism mencerminkan masih banyaknya pekerjaan rumah sektor kesehatan nasional. Infrastruktur rumah sakit di daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T) belum memadai. Pelayanan BPJS Kesehatan juga sering menuai keluhan masyarakat.
Masalah obat-obatan tak kalah serius. Meski Indonesia mampu memproduksi sebagian besar kebutuhan obat domestik, ketergantungan pada bahan baku impor dari China dan India masih sangat tinggi. Kondisi ini membuat harga obat sulit ditekan dan memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Pemerintah telah menggagas pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kesehatan di Sanur, Bali, sebagai upaya menahan devisa agar tidak terus mengalir ke luar negeri. Modernisasi fasilitas, peningkatan kualitas tenaga medis, serta kemandirian bahan baku farmasi menjadi langkah penting agar Indonesia tidak sekadar menjadi penonton di tengah persaingan layanan kesehatan global.
Tanpa transformasi serius, arus pasien Indonesia ke luar negeri diperkirakan akan terus meningkat. Warga tentu berhak mencari pelayanan terbaik, tetapi bagi negara, ini menjadi tamparan keras bahwa sistem kesehatan nasional masih perlu pembenahan menyeluruh.**


