Refleksi Hari Pahlawan : Eka Ganjar Kurniawan Ajak Dunia Pendidikan Menyalakan Kembali Api Pengabdian
SUMEDANG, INFOJABARONLINE — Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Dr. Eka Ganjar Kurniawan, S.Sos., M.E., menegaskan bahwa Hari Pahlawan bukan sekadar upacara tahunan atau ritual simbolik, melainkan momen reflektif untuk menyalakan kembali api pengabdian di dunia pendidikan. Dalam pandangannya, esensi kepahlawanan sejati kini terletak pada kemampuan insan pendidikan menjaga bara semangat perjuangan melalui ilmu, etika, dan dedikasi tanpa pamrih.
“Pahlawan tidak selalu mereka yang gugur di medan laga, tetapi juga mereka yang dengan sabar menyalakan lilin pengetahuan di tengah gelapnya kebodohan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa semangat kepahlawanan harus diartikulasikan ke dalam perilaku profesional tenaga pendidik dan kebijakan pendidikan yang berpihak pada kemajuan bangsa. Dalam konteks ini, Eka mengaitkan semangat tersebut dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, berilmu, dan bertanggung jawab.
“Undang-undang itu sejatinya merupakan pedoman perjuangan kita hari ini. Guru adalah garda terdepan dalam menegakkan nilai-nilai itu. mereka adalah pahlawan dalam senyap, yang bertempur melawan keterbatasan, kemalasan, dan kebodohan,” katanya dengan nada penuh keyakinan.
Eka juga menyinggung relevansi Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang menekankan pentingnya mutu dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan zaman. Menurutnya, semangat kepahlawanan hari ini harus diterjemahkan dalam keberanian untuk berinovasi, melakukan transformasi digital, serta mencetak generasi yang adaptif dan berkarakter.
“Kalau dulu pahlawan memerdekakan bangsa dari penjajahan fisik, kini tugas kita memerdekakan pikiran dari keterbelakangan. Pendidikan adalah medan juang baru, dan kelas adalah arena tempat semangat kemerdekaan diuji setiap hari,” tuturnya.
Ia menambahkan, momentum Hari Pahlawan harus menjadi refleksi etis sekaligus evaluasi moral bagi semua pihak. Dari guru, kepala sekolah, hingga pengambil kebijakan, agar tidak terjebak dalam rutinitas birokratis yang kehilangan ruh perjuangan. Eka mengingatkan bahwa kebijakan pendidikan sejatinya adalah instrumen pembebasan, bukan sekadar administrasi pembangunan sumber daya manusia.
“Ketika guru mengajar dengan hati, ketika siswa belajar dengan semangat, ketika kebijakan dibuat dengan nurani, maka di situlah makna kepahlawanan menemukan wujudnya,” tutur Eka lirih namun tegas.
Ia menggarisbawahi pula pentingnya menanamkan nilai nasionalisme dan karakter pada peserta didik, sejalan dengan Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Menurutnya, nilai-nilai seperti religius, nasionalis, gotong royong, integritas, dan kemandirian adalah fondasi moral yang tak lekang dimakan waktu.
“Pahlawan sejati adalah mereka yang menjaga api nilai-nilai itu agar tak padam, bahkan ketika angin zaman berhembus kencang,” ujarnya.
Menutup refleksinya, Eka mengajak seluruh insan pendidikan di Sumedang untuk tidak hanya mengenang jasa pahlawan, tetapi meneruskan semangat mereka dengan kerja keras, inovasi, dan ketulusan.
“Kita tak perlu menunggu medan perang untuk menjadi pahlawan. Cukuplah menjadi guru yang tak lelah mengabdi, siswa yang tak berhenti belajar, dan pemimpin yang tak lupa mendengar. Itulah kepahlawanan di era pengetahuan,” pungkasnya.
Elang Salamina


