Membaca Tiga Skenario Masa Depan Koperasi Desa Merah Putih
GAGASAN Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai pilar kemandirian ekonomi desa tengah menggema. Di saat bangsa ini mencari model pembangunan yang lebih adil, berakar dari bawah, koperasi desa muncul sebagai jawaban: instrumen demokratisasi ekonomi sekaligus wadah penguatan semangat gotong royong.
Namun, sebagaimana halnya setiap gagasan besar, masa depan KDMP tidak datang dengan jaminan keberhasilan. Ia perlu diperjuangkan. Setidaknya ada tiga kemungkinan arah yang bisa terjadi, yang saya pinjam dari pemikiran Firdaus Putra HC, Ketua Komite Eksekutif ICCI dalam publikasi ICCI: skenario pesimis, moderat, dan optimis.
Membaca ketiga skenario ini bukan soal meramal masa depan, melainkan soal memilih—ke arah mana kita ingin melangkah.
1. Skenario Pesimis: Koperasi Sekadar Formalitas
Dalam skenario ini, koperasi hadir hanya sebagai pelengkap syarat administratif atau target program pemerintah. Ia berdiri di atas kertas, bukan dari kebutuhan nyata masyarakat. Pengurusnya tidak punya kapasitas manajerial, usahanya mandek, partisipasi anggotanya nyaris tak terlihat.
Ketergantungan pada bantuan justru mematikan inisiatif. Pemerintah hadir hanya saat peresmian, lalu menghilang. Tanpa dukungan ekosistem—baik fiskal, pelatihan, maupun akses pasar—koperasi seperti ini stagnan. Ia gagal menjalankan fungsi produktifnya, dan kepercayaan masyarakat kembali pudar.
2. Skenario Moderat: Tumbuh Perlahan di Tengah Keterbatasan
Skenario ini menggambarkan perkembangan koperasi yang mulai menunjukkan tanda-tanda hidup, meski terseok-seok. Di beberapa wilayah, koperasi desa tumbuh dengan semangat partisipatif, dipimpin oleh kepala desa yang visioner. Usaha produktif seperti toko sembako, simpan pinjam, hingga distribusi pupuk dan LPG mulai dijalankan.
Namun, dukungan ekosistem belum optimal. Pendampingan masih sporadis, akses pembiayaan terbatas, dan jejaring antar-koperasi belum terbangun kokoh. Meskipun ada beberapa koperasi yang mulai menunjukkan kinerja positif, mereka belum cukup kuat untuk mengimbangi dominasi ekonomi kota.
Meski demikian, skenario ini menyalakan harapan. Dengan dorongan kebijakan yang tepat dan keberpihakan fiskal, koperasi desa bisa menjadi tulang punggung ekonomi yang tangguh dan mandiri.
3. Skenario Optimis: Pilar Utama Kemandirian Desa
Inilah skenario yang kita impikan. Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar lembaga ekonomi, tapi menjadi gerakan nasional yang tumbuh dari transformasi ekonomi desa. Ia dikelola secara profesional, akuntabel, dan memanfaatkan teknologi.
Fungsinya tak lagi terbatas pada layanan pinjaman, tapi merambah sektor-sektor strategis: logistik pangan, energi terbarukan, pertanian berbasis pasar, hingga digitalisasi UMKM. Pemerintah pusat dan daerah bahu membahu menyusun kebijakan yang terintegrasi—mulai dari insentif fiskal, skema reinvestasi SHU, pendanaan bergulir, hingga pelatihan SDM berjenjang.
Lebih dari itu, KDMP menjadi ruang belajar kolektif. Tempat warga desa belajar tentang bisnis, tata kelola, dan nilai kebersamaan. Dalam skenario ini, koperasi desa bukan sekadar pelengkap pembangunan, tapi mesin utama perubahan.
Menentukan Arah Perjalanan
Ketiga skenario ini adalah cermin dari realitas yang tengah kita hadapi. Di banyak desa, kita mungkin masih berada di skenario pertama. Di tempat lain, mulai muncul tanda-tanda menuju skenario kedua. Tapi jika kita benar-benar ingin membangun desa yang mandiri, maka skenario ketiga-lah yang harus kita perjuangkan bersama.
Ini berarti, koperasi desa tak bisa hanya menjadi urusan kepala desa sebagai ex officio pengurus atau pengawas. Harus ada intervensi cerdas dari negara—bukan sekadar pengawasan birokratis, melainkan dukungan nyata yang memungkinkan koperasi tumbuh sehat dan berakar.
Kalau benar kita ingin membangun Indonesia dari pinggiran, koperasi harus menjadi strategi utama. Bukan program tambahan, bukan proyek pelengkap. Dan di titik inilah, Koperasi Desa Merah Putih hadir sebagai simbol harapan: bahwa masa depan ekonomi bangsa bisa tumbuh dari akar yang paling dalam—dari desa, oleh desa, dan untuk desa.
Oleh: Naya Sunarya – Warga Sumedang, Mantan Anggota DPRD Sumedang, Ketua Dewas Fokus Sinergi Kemitraan


