Jelang Musda : Ambisi Membelah Teduh Pohon Beringin
LANGIT politik Sumedang tengah dipenuhi awan mendung yang bergulung. Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Oktober 2025, hawa panas makin terasa di tubuh partai berlambang beringin. Pohon yang mestinya menjadi simbol keteduhan kini justru berasap, seolah ranting-rantingnya terbakar oleh api ambisi.
Indikasi memanasnya suhu politik terlihat jelas. Seorang kandidat kuat belakangan ini menjadi sasaran tembak dengan serangan beruntun. Serangan yang datang bertubi-tubi, waktunya pun mendekati Musda, membuat publik bertanya, apakah ini sekadar dinamika biasa, atau justru jejak dari ambisi lawan yang begitu ingin merebut kursi Ketua DPD?
Fenomena ini bukan hal baru di panggung politik lokal. Di Musda Golkar Indramayu beberapa tahun lalu, suasana serupa juga mengemuka: serangan pribadi dijadikan alat untuk melemahkan kandidat tertentu, hanya demi melapangkan jalan kandidat lain. Bahkan di tingkat nasional, Munas Golkar 2014 di Jakarta pernah diwarnai manuver yang mirip, di mana kelompok-kelompok saling jegal demi memastikan siapa yang berhak duduk di kursi panas ketua umum. Sejarah membuktikan: di balik serangan bertubi-tubi, seringkali terselip ambisi yang membara.
Lebih menarik lagi, desas-desus intervensi pihak luar kian memperkeruh suasana. Ada yang menuding, dukungan dari elite provinsi hingga pusat bisa ikut diarahkan untuk memperkuat kandidat tertentu. Jika benar, maka Musda Sumedang bukan lagi sekadar adu gagasan antar kader, melainkan juga gelanggang adu pengaruh yang sarat intrik.
Namun, masyarakat dan tokoh lokal tentu berharap Musda nanti tidak terjebak dalam pola saling jegal. Musyawarah mestinya menjadi ruang merajut kekompakan, bukan arena adu kuasa yang justru mencabik akar kebersamaan. Politik adalah tentang siapa yang mampu menaungi, bukan siapa yang paling lihai menyingkirkan lawan.
Oktober mendatang, Musda Golkar Sumedang akan menjadi saksi, apakah beringin akan tetap tegak menaungi dengan rindang, atau justru terbakar oleh api ambisi segelintir orang yang terlalu bernafsu menduduki kursi ketua?
Pada akhirnya, publiklah yang akan menilai, Golkar Sumedang sedang menguatkan batangnya, atau justru membiarkan pohonnya rapuh karena akarnya dipangkas oleh tangan-tangan penuh ambisi.**
Elang Salamina


