Dr. Eka Ganjar : Guru Adalah Arsitek Masa Depan Bangsa
SUMEDANG, INFOJABARONLINE — Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan zaman yang kian dinamis, sosok guru tetap menjadi lentera yang tak pernah padam. Dalam momentum Hari Guru Nasional 2025, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Dr. Eka Ganjar Kurniawan, S.Sos., M.E., mengajak seluruh insan pendidikan untuk melakukan refleksi mendalam, ke mana arah pendidikan akan dibawa, dan sejauh mana denyut peran guru terus memberi makna di dalamnya.
“Guru adalah arsitek masa depan, bukan sekadar pelaksana kurikulum. Dari tangan merekalah lahir generasi yang berpikir, berempati, dan berkarakter,” ujar Eka Ganjar, saa dihubungi, Selasa (25/11/2025)
Menurutnya, peringatan Hari Guru bukan sekadar seremoni penuh bunga ucapan, melainkan momentum akademis untuk meneguhkan kembali jati diri profesi guru di tengah kompleksitas tantangan era digital.
“Kita sedang menata ekosistem pendidikan yang responsif, inovatif, dan merata. Guru adalah pusat gravitasi dari perubahan itu,” tegasnya.
Eka menjelaskan, arah kebijakan Dinas Pendidikan Sumedang saat ini berfokus pada tiga poros utama transformasi pendidikan, yakni:
1. Digitalisasi layanan pendidikan, agar sistem pembelajaran dan administrasi menjadi lebih adaptif dan efisien.
2. Pemerataan kualitas sekolah dan guru, guna memastikan setiap anak memperoleh akses pendidikan yang layak di mana pun berada.
3. Revitalisasi sarana belajar yang humanis dan berdaya cipta, agar sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh bagi siswa dan guru.
“Kita ingin sekolah tidak sekadar berdiri megah, tetapi hidup, menjadi ruang tumbuh yang sehat, menyenangkan, dan berdaya cipta,” ujarnya.
Lebih jauh, Dr. Eka Ganjar menegaskan bahwa guru di era modern harus berani melampaui batas rutinitas. Mereka tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga memantik rasa ingin tahu siswa, menumbuhkan karakter, serta menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan nyata.
“Teknologi boleh mengubah cara kita mengajar, tetapi tidak akan pernah menggantikan sentuhan kemanusiaan seorang guru. Hati dan dedikasi tetap menjadi inti dari profesi ini,” katanya penuh makna.
Dalam kerangka besar visi pendidikan Sumedang, Eka menilai bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur semata oleh angka kelulusan atau rapor yang tinggi. Lebih dari itu, ukuran sejati keberhasilan adalah mampu tidaknya guru membentuk manusia yang berpikir kritis, berakhlak mulia, dan siap menghadapi perubahan dunia.
“Anak-anak kita bukan sekadar membutuhkan pengetahuan, tetapi juga arah. Dan arah itu datang dari guru. Mereka adalah kompas moral yang menuntun makna belajar dan berkehidupan,” tutur Eka.
Untuk memperkuat peran tersebut, Dinas Pendidikan tengah menggulirkan sejumlah program strategis, di antaranya pelatihan literasi digital bagi guru, penguatan pendidikan kesetaraan, dan pengembangan kurikulum edutainment yang menyeimbangkan antara hiburan, kreativitas, dan nilai-nilai pembelajaran. Semua diarahkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang hidup, bermakna, dan membumi.
Eka juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak. “Pendidikan yang berkualitas tidak bisa berdiri sendiri. Guru, orang tua, dan masyarakat harus berjalan beriringan. Hanya dengan kebersamaan, pendidikan Sumedang bisa menjadi taman ilmu yang tumbuh subur,” ujarnya.
Penutup, Dr. Eka Ganjar menyampaikan penghormatan mendalam kepada seluruh guru di Kabupaten Sumedang, baik yang mengajar di tengah hiruk-pikuk kota, maupun yang setia menembus pelosok desa.
“Mereka adalah cahaya kecil yang menerangi jalan panjang bangsa ini. Mungkin sinarnya tak selalu terlihat terang, tetapi tanpa mereka, dunia pendidikan akan gelap,” ucapnya.
Hari Guru Nasional tahun ini, kata Eka, menjadi pengingat bahwa profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa.
“Selama guru tetap menyalakan api semangatnya, Sumedang tidak akan kehabisan cahaya untuk melangkah ke masa depan,” pungkas Dr. Eka Ganjar Kurniawan.
Elang Salamina


