Dikdik Sadikin dan Ikhtiar Menyemai Sehatnya Sumedang
BICARA tentang kesehatan publik, nama H. Dikdik Sadikin, A.KS., M.Si. kian mengemuka sebagai sosok birokrat yang bekerja bukan hanya dengan regulasi, tetapi juga dengan nurani. Sejak dilantik pada 28 Mei 2025 sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Dikdik menampilkan corak kepemimpinan yang tidak berhenti di ruang rapat. Ia hadir di lapangan, menjemput realitas, dan menanamkan semangat transformasi dalam setiap denyut program kesehatan masyarakat.
Dikdik Sadikin memahami bahwa membangun sektor kesehatan bukan sekadar menyembuhkan yang sakit, melainkan menyehatkan sistem yang menopang kehidupan. Karena itu, ia menata langkah dengan visi yang terukur melalui Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan 2024–2026, sebuah peta jalan yang selaras dengan RPJMD Kabupaten Sumedang.
Renstra ini bukan tumpukan kertas administratif, melainkan kompas kebijakan yang memuat arah, strategi, hingga indikator kinerja yang konkret. Seperti arsitek yang menakar fondasi sebelum membangun rumah, Dikdik memastikan setiap kebijakan berakar pada data, analisis kebutuhan, dan landasan regulasi.
“Visi tanpa rancangan hanya akan melahirkan retorika,” ujar Dikdik dalam satu kesempatan. “Tapi visi yang disusun dengan data dan kesadaran lapangan akan menjelma menjadi gerakan.”
Pemimpin yang hadir, bukan sekadar memerintah
Ciri kepemimpinan visioner adalah kehadiran yang menyapa, bukan hanya memantau dari kejauhan. Dalam berbagai kesempatan, Dikdik turun langsung ke desa-desa untuk mengadvokasi dan mengawal program imunisasi nasional. Ia memimpin gerakan menurunkan angka anak “zero-dose”, yakni anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi dasar.
Di hadapan para petugas kesehatan dan masyarakat, Dikdik berbicara bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai sesama warga yang ingin memastikan anak-anak Sumedang tumbuh sehat tanpa takut penyakit yang seharusnya dapat dicegah. Langkahnya di lapangan menjadi bukti bahwa kehadiran seorang pemimpin sering kali lebih kuat daripada sekadar tanda tangan di surat edaran.
Di tangan Dikdik, Dinas Kesehatan Sumedang bergerak dari sekadar pelayanan menjadi gerakan sosial. Program kesehatan ibu dan anak, gerakan posyandu aktif, hingga edukasi pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) dijalankan secara simultan dan terpadu.
Pendekatannya sederhana tapi fundamental: memperkuat masyarakat dari akar. Posyandu kembali hidup, kader kesehatan diberdayakan, dan edukasi gizi dilakukan bukan hanya di aula kantor, tapi di rumah-rumah warga. Strategi ini sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting (Stranas Stunting), yang menekankan kolaborasi multisektor untuk menekan angka gizi buruk.
“Anak sehat bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi tanggung jawab semua pihak — dari dapur keluarga hingga ruang kebijakan,” kata Dikdik dalam sebuah forum koordinasi lintas dinas.
Regulasi sebagai pagar dan pengarah
Visi besar tak akan kokoh tanpa pagar regulasi. Karena itu, setiap langkah Dinas Kesehatan berpegang pada mandat nasional dan daerah.
Implementasi program kesehatan di Sumedang berlandaskan antara lain pada Permenkes Nomor 19 Tahun 2024 tentang Pedoman Penyelenggaraan Puskesmas, serta berbagai ketentuan turunan terkait standar pelayanan minimal (SPM) bidang kesehatan, dan tata kelola anggaran daerah sebagaimana diatur dalam Permendagri Nomor 90 Tahun 2019 jo. Kepmendagri 050-5889 Tahun 2021.
Regulasi ini bukan sekadar administrasi, tetapi jaminan agar setiap langkah pembangunan kesehatan berjalan konsisten, berkelanjutan, dan akuntabel. Dinas Kesehatan tidak lagi bergerak sporadis, melainkan sistematis, seperti aliran sungai yang tahu ke mana harus bermuara.
Menjawab tantangan dengan strategi
Dikdik menyadari bahwa pekerjaan di bidang kesehatan bukan perjalanan yang tanpa rintangan. Kekurangan tenaga medis di beberapa kecamatan, distribusi logistik imunisasi, hingga disparitas capaian antar wilayah menjadi ujian nyata. Namun, tantangan bagi pemimpin visioner bukan alasan untuk berhenti, justru menjadi bahan bakar untuk berinovasi.
Ia menggerakkan penguatan koordinasi lintas sektor: menggandeng Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, serta unsur kecamatan dan desa untuk memastikan program kesehatan bersifat integratif. Dengan cara itu, setiap persoalan, dari sanitasi, gizi, hingga kesadaran masyarakat, ditangani secara simultan dan saling menguatkan.
Dari visi menjadi kenyataan
Kepemimpinan Dikdik Sadikin menegaskan satu hal. Membangun kesehatan masyarakat bukan perkara membuat laporan yang rapi, tetapi memastikan ada denyut kehidupan di balik angka-angka. la menolak menjadikan regulasi sebagai tembok pemisah, melainkan menjadikan jembatan antara kebijakan dan kenyataan.
Dengan pendekatan yang humanis, struktur kebijakan yang akademis, dan langkah kerja yang profesional, Dinas Kesehatan Sumedang kini bergerak menuju paradigma baru – dari birokrasi pelayanan menuju birokrasi yang melayani.
Sumedang sedang menulis bab baru dalam perjalanan kesehatannya. Dan di balik lembar-lembar data itu, ada seorang pemimpin yang bekerja diam-diam tapi berdampak nyata – menanamkan nilai, membangun sistem, dan menyemai harapan bahwa sehat bukan sekadar status, melainkan budaya yang terus dirawat.
Elang Salamina


