Home » Asep Kurnia dan Nafas Panjang Pengabdian di Bulan Merdeka

Asep Kurnia dan Nafas Panjang Pengabdian di Bulan Merdeka

SUMEDANG, INFOJABARONLINE – Agustus di Sumedang selalu datang dengan wajah riang. Di setiap sudut kampung, merah putih berkibar seperti nadi bangsa yang berdetak kencang. Anak-anak berlari dengan pipi penuh bedak lomba, genderang perayaan menggema dari desa ke desa. Di tengah gegap gempita itu, ada sosok yang tak henti menjejak: Asep Kurnia, S.H., M.H., Anggota DPRD Kabupaten Sumedang dari Fraksi Golkar.

Ia bukan sekadar nama yang tercetak di kursi dewan. Ia hadir, menyeberangi jalan-jalan desa, menyelami kerumunan rakyat, menyapa wajah-wajah penuh harap. Langkahnya mengalir seperti sungai—tak mengenal jeda, selalu mencari muara pengabdian.

Dimulai 10 Agustus, Asep turut menyaksikan semangat para pemuda di Lari Sehat Desa Cihanjuang. Seminggu kemudian, pada detik-detik proklamasi 17 Agustus di Jatinangor, ia berdiri tegak, seakan ikut menimba makna dari sumur sejarah bangsa.

Oplus_0

Tak lama, tangannya meresmikan Kantor Desa Jatiroke—sebuah rumah baru untuk suara rakyat. Dari sana, ia singgah ke lomba menembak, lalu larut dalam karnaval meriah di Puskopad, Desa Cipacing. Langkahnya berlanjut ke Desa Cisempur, menyapa Karang Taruna dalam acara Sapa Warga. Ratusan orang datang, ribuan senyum merekah. Momen itu bagai pasar harapan—tempat rakyat dan wakilnya bertemu tanpa sekat.

Oplus_0

Agenda pun belum usai. Pada 23 Agustus, ia dijadwalkan membuka Lomba Senam Cipacing Juara. Sehari setelahnya, ia kembali menyelami riuh Pawai Pembangunan di Mangunarga. Kalender Agustus baginya seperti hamparan tanpa jeda, penuh tinta merah perjuangan yang ia bubuhkan dengan kehadiran.

Tentu ada lelah. Tubuh manusia punya batas, tapi semangat pengabdian kerap punya tenaga yang tak habis-habis. Asep Kurnia seolah memahami: wakil rakyat bukan hanya duduk di kursi sidang, melainkan berdiri di tengah rakyat, berjalan bersama mereka, bahkan sesekali berlari mengejar aspirasi yang berhamburan di jalan desa.

Oplus_0

“Sebagai wakil rakyat, saya adalah milik rakyat,” ucapnya. Kalimat sederhana, namun terasa seperti janji yang diikat dengan tindakan.

Di bulan kemerdekaan ini, Asep memberi pengingat yang berharga: merdeka bukan hanya simbol di tiang bendera, tetapi juga hadirnya pemimpin yang setia mendengar, menyapa, dan merangkul rakyatnya.

Dan ketika langit Agustus perlahan berubah jingga, nama Asep Kurnia masih bergema di jalan-jalan desa. Bukan karena baliho, bukan pula slogan, melainkan jejak langkah yang tertinggal di hati rakyatnya.

Elang Salamina